Kamis, 16 Agustus 2012

Danau Maninjau by Lazi Js








Youtube :

01. Danau Maninjau : https://youtu.be/eXu5Cj50nUc  

02. Sayuik Sauleh :   https://youtu.be/tpXG33dNrIw

03. Ratok Pasaman :  https://youtu.be/OlowsK57a6Y 

04. Patah Bacinto :  https://youtu.be/WFHQDVmtV4A 

05. Tacinto Tunangan Urang : https://youtu.be/xDnG-Ecw0XM

06. Manggapai Angan :  https://youtu.be/y_s5-0CUrEQ

 07. Nan Disabuik Cinto : https://youtu.be/bkWeWzoGPGE

 08. Ampun Mandeh : https://youtu.be/BZEdrZYMIQE

09. Tangih Anak Daro : https://youtu.be/Jn9OHlcP9lA
10. Bayang Bayang Rindu :  https://youtu.be/ZHVcZS2CNiQ



Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat : 
Asal Mula Danau Maninjau

Di sebuah perkampungan di kaki Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan Bujang Sembilan.
Semenjak orangtua mereka meninggal dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk Limbatang yang biasa mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama Giran.



Setelah menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak balk, akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing. Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita.  Saat panen usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.

Kukuban dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.
Ketika pertarungan berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan. Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.
Semenjak kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan oleh Giran dan menyebabkan kakinya patah.

Suatu hari, Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban dan Datuk Limbatang.
“Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!" ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan persetujuannya tidak membuahkan hasil.
“Anakku, Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah kejadian yang sebenarnya."


Namun, semua sia-sia. Kukuban tetap menolak memberikan restunya. Sani dan Giran tidak bisa menikah.
Betapa sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah ladang di pinggir sungai.
"Apa yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan kita," keluh Giran.
"Entahlah, Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada Abang;" isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan "Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya," ujar Giran. Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.
Mereka berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran.
 

Melihat Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.
Sidang adat memutuskan bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.
Sani dan Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka tidak bersalah.
Di puncak Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

"Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi mereka semua," doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.
Bujang Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.
Tidak lama kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.


Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang semakin lama semakin besar, sehingga menyerupai sebuah danau. Danau tersebut disebut dengan Danau Maninjau.
Pesan moral dari Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat : Legenda Danau Maninjau adalah Kita tidak boleh menyimpan dendam dan berprasangka buruk terhadap seseorang. Prasangka buruk dan dendam hanya akan membuat kita tidak bahagia dan merugikan diri kita sendiri dimasa yang akan datang.



Folklore From West Sumatra: origin of Lake ManinjauIn a village at the foot of Mount Review, West Sumatra, live 10 brothers. They consist of nine men and one daughter. Father and their mother had died. The oldest child named Kukuban. Meanwhile, the youngest who is the only female, named Siti Rasani or Sani. 

 Because of the number of male siblings were nine people, local people often call them the Bujang Sembilan.Since their parents died, they were looked after by an uncle, namely Datuk Limbatang their usual calling Engku. Datuk Limbatang had a son named Giran.Folklore From West Sumatra Lake ManinjauAfter adulthood, Giran and Sani love. At first, they tried to hide the relationship. However, to avoid things that are not good, they finally disclose this relationship to each family. Both families were welcomed and Gani Sani relations with joy. 

When the harvest is over, the people in the township that carry out a customary form of martial arts celebration. All eager to follow this ceremony, including Kukuban and Giran.Kukuban with expertise silatnya managed to defeat his opponents. The same thing happened in Giran. Finally, the two met in the decider.As the fight progresses, both mengeluarkah to their respective expertise. Kukuban very keen to launch attacks to Giran. One time, he launched a kick to Giran, but the kick deflected harshly by Giran. All the audience were stunned when suddenly Kukuban screaming in agony. Apparently, Kukuban broken leg. He was declared the loser in the battle.Since the incident, Kukuban grudge against Giran.  

He did not accept being defeated by Giran and causing his legs broken.One day, Datuk Limbatang and his family came to the house Bujang Sembilan to discuss the continuation of the relationship Sani and Giran. Unexpectedly, Kukuban against Giran relationship with his sister. There was a dispute between Kukuban and Datuk Limbatang."Until whenever I will not approve the marriage with children Engku Sani. Giran've humiliated me in front of people and he also broke my leg! "Said Kukuban. Enterprises Datuk Limbatang persuade Kukuban to give his consent to no avail."My son, Kukuban, why do you hate Giran? All see that you're the one who attacked Giran, when he parried tendanganmu Giran cornered so that your legs broken. Giran innocent. Engku not defend Engku child, but that's the way the actual incident. "However, all in vain. 


 Kukuban still refused to give his blessing. Sani and Giran can not marry.How sad heart Sani and Giran. Giran and than  Sani invited to meet somewhere to talk about this issue. The next day, they met in a field on the edge of the river."What should we do, brother. Your brother really did not approve of our relationship," complained Giran."I do not know, Bang. All decisions in the hands of Bang Kukuban. He hates, once told Abang;" Sani sob. With a feeling of frantic, Sani rose from his seat. Suddenly, he wore gloves caught in a thorny twigs and injuring his leg to bleed. Sani moaning in pain "Sister, you are hurt. Abang will help treat it," said Giran. Then, Giran take leaves surrounding drugs and concoctions made applying to the wound lover.They did not realize that they are being watched. Apparently, Kukuban has called citizens to oversee Sani Giran clan.Giran saw that treat a leg wound Sani, citizens have a bad prejudice against both. Sani and Giran led citizens to be tried, because they have committed shameful acts and unethical customs.Indigenous Assembly decided that they were wrong and as a second sentence should be thrown into the crater of Mount Review not to bring havoc to the population.Sani and Giran led to the summit of Mount Review. Mareka eyes covered with black cloth. Giran and Sani is still trying to convince people that they are not guilty.At the peak of Mount Review, Giran lifted his hands and prayed to God Almighty."Oh, God. If we are not guilty, 

Erupt this mountain so that it becomes a lesson for all of them," Giran prayer in tears. Then, Sani and Giran jumped into the crater that is very hot.Bujang Sembilan and residents worried with the prayer said over Giran. If it turns out they are falsely accused, they will be destroyed.Not long after, there was a massive eruption that caused a great earthquake that destroyed Mount Review and settlements in the surrounding areas.No one had survived. The eruption caused a crater that is becoming increasingly large, so as to resemble a lake. The lake is called the  Lake Maninjau . The moral of Folklore From West Sumatra: Legend Lake Maninjau is We should not hold a grudge and prejudiced against someone. Prejudice and resentment will only make us unhappy and hurt ourselves in the future.


1 komentar: