Youtube :
01. Danau Maninjau : https://youtu.be/eXu5Cj50nUc
02. Sayuik Sauleh : https://youtu.be/tpXG33dNrIw
03. Ratok Pasaman : https://youtu.be/OlowsK57a6Y
04. Patah Bacinto : https://youtu.be/WFHQDVmtV4A
05. Tacinto Tunangan Urang : https://youtu.be/xDnG-Ecw0XM
06. Manggapai Angan : https://youtu.be/y_s5-0CUrEQ
07. Nan Disabuik Cinto : https://youtu.be/bkWeWzoGPGE
08. Ampun Mandeh : https://youtu.be/BZEdrZYMIQE
09. Tangih Anak Daro : https://youtu.be/Jn9OHlcP9lA
10. Bayang Bayang Rindu : https://youtu.be/ZHVcZS2CNiQ
Cerita
Rakyat Dari Sumatra Barat :
Asal Mula Danau Maninjau
Asal Mula Danau Maninjau
Di sebuah perkampungan di kaki
Gunung Tinjau, Sumatra Barat, hiduplah 10 orang bersaudara. Mereka terdiri dari
sembilan laki-laki dan satu anak perempuan. Ayah dan ibu mereka telah meninggal
dunia. Anak tertua bernama Kukuban. Sementara itu, si bungsu yang merupakan
satu-satunya perempuan, bernama Siti Rasani atau Sani. Karena jumlah laki-laki
bersaudara itu sembilan orang, penduduk sekitar sering menyebut mereka dengan
Bujang Sembilan.
Semenjak orangtua mereka meninggal
dunia, mereka diasuh oleh seorang paman, yaitu Datuk Limbatang yang biasa
mereka panggil Engku. Datuk Limbatang mempunyai seorang anak lelaki bernama
Giran.
Setelah
menginjak dewasa, Giran dan Sani saling jatuh cinta. Pada mulanya, mereka
menyembunyikan hubungan tersebut. Namun, untuk menghindari hal-hal yang tidak
balk, akhirnya mereka mengungkapkan hubungan ini kepada keluarga masing masing.
Kedua keluarga itu menyambut hubungan Sani dan Gani dengan suka cita. Saat panen
usai, warga di perkampungan itu melangsungkan perayaan adat berupa silat. Semua
bersemangat mengikuti upacara ini, termasuk Kukuban dan Giran.
Kukuban
dengan keahlian silatnya berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Hal yang sama
terjadi pada Giran. Akhirnya, keduanya bertemu pada pertandingan penentuan.
Ketika pertarungan
berlangsung, keduanya mengeluarkah ke ahlian masing-masing. Kukuban sangat
tajam melancarkan serangan-serangan kepada Giran. Suatu saat, ia melancarkan
tendangan ke arah Giran, tetapi tendangan tersebut ditangkis dengan keras oleh
Giran. Semua penonton tercengang ketika tiba-tiba Kukuban berteriak kesakitan.
Ternyata, kaki Kukuban patah. la dinyatakan kalah dalam pertarungan.
Semenjak
kejadian itu, Kukuban menyimpan dendam pada Giran. la tidak terima dikalahkan
oleh Giran dan menyebabkan kakinya patah.
Suatu hari,
Datuk Limbatang dan keluarganya datang ke rumah Bujang Sembilan untuk
membicarakan kelanjutan hubungan Sani dan Giran. Di luar dugaan, Kukuban
menentang hubungan adiknya dengan Giran. Terjadilah perselisihan antara Kukuban
dan Datuk Limbatang.
“Sampai
kapan pun aku tidak akan menyetujui pernikahan Sani dengan anak Engku. Giran
sudah mempermalukanku di depan penduduk dan ia juga mematahkan kakiku!"
ujar Kukuban. Usaha Datuk Limbatang membujuk Kukuban agar memberikan
persetujuannya tidak membuahkan hasil.
“Anakku,
Kukuban, mengapa engkau membenci Giran? Semua menyaksikan bahwa kaulah yang
menyerang Giran, ketika Giran terpojok ia menangkis tendanganmu sehingga kakimu
patah. Giran tidak bersalah. Engku bukan membela anak Engku, tetapi memang begitulah
kejadian yang sebenarnya."
Betapa
sedihnya hati Sani dan Giran. Giran Ialu mengajak Sani untuk bertemu di suatu
tempat membicarakan masalah ini. Keesokan harinya, mereka bertemu di sebuah
ladang di pinggir sungai.
"Apa
yang harus kita perbuat, Dik. Abangmu sangat tidak merestui hubungan
kita," keluh Giran.
"Entahlah,
Bang. Semua keputusan ada di tangan Bang Kukuban. Dia benci, sekali kepada
Abang;" isak Sani. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat
duduknya. Tiba-tiba, sarung yang dikenakannya tersangkut di sebuah ranting
berduri dan melukai kakinya hingga berdarah. Sani merintih kesakitan
"Adik, kamu terluka. Abang akan bantu mengobatinya," ujar Giran.
Lalu, Giran mengambil daun-daun obat di sekitarnya dan mengoleskan ramuan yang
dibuatnya ke bagian luka kekasihnya.
Mereka
berdua tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi. Ternyata, Kukuban telah
memanggil warga untuk mengawasi Sani clan Giran.
Melihat
Giran yang sedang mengobati luka di kaki Sani, warga mempunyai prasangka yang
buruk terhadap keduanya. Sani dan Giran digiring warga untuk diadili, karena
dianggap telah melakukan perbuatan yang memalukan dan melanggar etika adat.
Sidang adat memutuskan
bahwa mereka bersalah dan sebagai hukumannya keduanya harus dibuang ke Kawah
Gunung Tinjau agar tidak membawa malapetaka bagi penduduk.
Sani dan
Giran digiring menuju puncak Gunung Tinjau. Mata mareka ditutup dengan kain
hitam. Giran dan Sani masih tetap berusaha meyakinkan penduduk bahwa mereka
tidak bersalah.
Di puncak
Gunung Tinjau, Giran menengadahkan tangannya dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa.
"Ya Tuhan. Jika kami tidak bersalah, Ietuskanlah gunung ini sehingga menjadi pelajaran bagi mereka semua," doa Giran sambil berurai air mata. Lalu, Sani dan Giran meloncat ke dalam kawah yang sangat panas.
Bujang
Sembilan dan para penduduk merasa cemas dengan doa yang dipanjatkan Giran. Jika
ternyata mereka salah menuduh, mereka akan hancur.
Tidak lama
kemudian, terjadilah letusan dahsyat yang menyebabkan gempa hebat yang
menghancurkan Gunung Tinjau dan pemukiman penduduk yang berada di sekitarnya.
Tidak ada satu pun yang selamat. Letusan tersebut menyebabkan terjadinya sebuah kawah yang semakin lama semakin besar, sehingga menyerupai sebuah danau. Danau tersebut disebut dengan Danau Maninjau.
Pesan moral
dari Cerita Rakyat Dari Sumatra Barat : Legenda Danau Maninjau adalah Kita
tidak boleh menyimpan dendam dan berprasangka buruk terhadap seseorang.
Prasangka buruk dan dendam hanya akan membuat kita tidak bahagia dan merugikan
diri kita sendiri dimasa yang akan datang.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar